Indah hari itu, menambah kenyamanan perjalananku menuju Jakarta. Tempat yang aku tuju ketika libur semester tiba. Aku selalu suka momen libur ini, karena aku kembali dan mungkin kita bisa bertemu walaupun kecil kemungkinan, setidaknya kita tidak terpisah jarak hanya perlu campur tangan Tuhan mempertemukan kita di kemungkinan kemungkinan kecil itu. Sepanjang perjalanan melewati setiap stasiun aku selalu tersenyum, iyaaa karena jarak kita semakin dekat dan lagi kamu menemaniku. Pertanyaan yang tidak pernah kamu tanyakan pada hari itu kamu bertanya "sudah makan dek" "sudah sampai mana dek" "kamu lewat jalur mana dek" tapi sinyal tidak memihak yaaa.. ada saja kendala sinyal sangat susah.. sampai akhirnya kamu meminta ku untuk melakukan share live location ku selama aku diperjalanan. Alasanmu sangat lucu "aku mau tahu kamu lewat jalur mana dan kamu sudah sampai mana", tau gak kamu apa yang aku rasakan saat itu? dinosaurus menari2 di perutku, rasanya ingin menari2 cuman kan aku diatas kereta jd ya gak mungkin dong... hihihi
Ku kira hanya sebentar kamu mencari, ternyata aku salah. Kamu pun memastikan aku sudah makan, nyaman atau tidak selama perjalanan, bahkan kamu menanyakan hal-hal konyol. Itu membuatku semakin rindu dan berharap bisa bertemu sama kamu... Kamu pun mengirimkan foto dirimu yang sedang berada di ruang meeting itu, kamu pun bercerita tentang bagaimana dirimu saat itu sedang ditengah-tengah rapat yang membosankan katamu. Sampai-sampai kamu mengirimkan voice note suasana meetingmu dengan alasan "dek dengerin biar gak jenuh di perjalanan" aku yaang membacanya mampu tersenyum "ada-ada aja kamu mas kelakuanmu, fokus dong meetingnya" tak selang lama dia pun membalasnya "bosen dek, kamu join meeting sini ada link onlinenyaa" "heh, bercanda kamu.. mana bisa aku join" "bisa dek, coba aja. Nanti bilang aja dapet linknya dari sosmed".. selucu itu diaa jika kami sudah berkomunikasi dengan sangat intens..
Cukup terjeda obrolan kami, dia muncul lagi saat aku sudah melewat perbatasan provinsi dan memasuki wilayah Jakarta. Dia menelponku, menanyakan bagaimana keadaanku dan sudah makan apa belum, dan terlucu adalah "dek, sudah ngumpulin rindu belum?" aku cukup dibuatnya tersenyum dibalik masker yang ku gunakan.. Dengan jantung yang tak karuan, pikiran yang terbang, dinosaurus yang berdansa diperutku aku membalas pertanyaan itu "rinduku sudah siap dipecahkan dari celengannya, kapan kamu akan datang?" aku mengetiknya dengan berharap balasan yang bersambut... Tapi...
Jawaban itu dan harapan itu tak pernah datang...
Sepertinya kita sudah berada di fase awal lagi, kembali asing tanpa kabar dan suara lagi.
Dia pergi lagi untuk sekian kalinya, tapi aku tetap berpikir kalau dia sangat sibuk dan bergelut dengan kesibukkannya. Aku menunggunyaa. Esok hari aku buru-buru membuka ponselku, berharap ada notif dari nya, ataupun media sosialnya tapi tak ada kabar apapun. Pikiranku memintaku menunggu beberapa waktu, seperti pada mode awal, ku menunggu dan tetap menunggu di tempat yang sama untuk menunggunya kembali.
Ternyata selama ini hanya aku yang khawatir, hanya aku yang memikirkannya terlalu, dan hanya aku yang selalu tetap menunggunya....
Ku akhiri semua cerita itu hari ini tanpa akan terulang kembali...


