Sabtu, 22 Juni 2024

Argo Bromo Anggrek di Bulan Juni


Setelah penantian panjangku, aku kembali mendengar notif yang sudah lama ku rindukan berhari-hari lamanya. Sebuah kalimat yang tak pernah aku bayangkan aku baca hari itu "hati-hati dijalan dek" kalimat yang hari itu mampu membuatku terharu, tembok yang baru aku bangun pun runtuh hari itu, runtuh secara cepat tanpa perlahan. Kalian tidak salah, aku memang membangun tembok itu untuk membuatku mampu bertahan dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya, karena apapun yang tidak mungkin akan bisa saja menjadi mungkin karena itu kamu yang aku hadapi. 

Indah hari itu, menambah kenyamanan perjalananku menuju Jakarta. Tempat yang aku tuju ketika libur semester tiba. Aku selalu suka momen libur ini, karena aku kembali dan mungkin kita bisa bertemu walaupun kecil kemungkinan, setidaknya kita tidak terpisah jarak hanya perlu campur tangan Tuhan mempertemukan kita di kemungkinan kemungkinan kecil itu. Sepanjang perjalanan melewati setiap stasiun aku selalu tersenyum, iyaaa karena jarak kita semakin dekat dan lagi kamu menemaniku. Pertanyaan yang tidak pernah kamu tanyakan pada hari itu kamu bertanya "sudah makan dek" "sudah sampai mana dek" "kamu lewat jalur mana dek" tapi sinyal tidak memihak yaaa.. ada saja kendala sinyal sangat susah.. sampai akhirnya kamu meminta ku untuk melakukan share live location ku selama aku diperjalanan. Alasanmu sangat lucu "aku mau tahu kamu lewat jalur mana dan kamu sudah sampai mana", tau gak kamu apa yang aku rasakan saat itu? dinosaurus menari2 di perutku, rasanya ingin menari2 cuman kan aku diatas kereta jd ya gak mungkin dong... hihihi

Ku kira hanya sebentar kamu mencari, ternyata aku salah. Kamu pun memastikan aku sudah makan, nyaman atau tidak selama perjalanan, bahkan kamu menanyakan hal-hal konyol. Itu membuatku semakin rindu dan berharap bisa bertemu sama kamu... Kamu pun  mengirimkan foto dirimu yang sedang berada di ruang meeting itu, kamu pun bercerita tentang bagaimana dirimu saat itu sedang ditengah-tengah rapat yang membosankan katamu. Sampai-sampai kamu mengirimkan voice note suasana meetingmu dengan alasan "dek dengerin biar gak jenuh di perjalanan" aku yaang membacanya mampu tersenyum "ada-ada aja kamu mas kelakuanmu, fokus dong meetingnya" tak selang lama dia pun membalasnya "bosen dek, kamu join meeting sini ada link onlinenyaa" "heh, bercanda kamu.. mana bisa aku join" "bisa dek, coba aja. Nanti bilang aja dapet linknya dari sosmed".. selucu itu diaa jika kami sudah berkomunikasi dengan sangat intens..

Cukup terjeda obrolan kami, dia muncul lagi saat aku sudah melewat perbatasan provinsi dan memasuki wilayah Jakarta. Dia menelponku, menanyakan bagaimana keadaanku dan sudah makan apa belum, dan terlucu adalah "dek, sudah ngumpulin rindu belum?" aku cukup dibuatnya tersenyum dibalik masker yang ku gunakan.. Dengan jantung yang tak karuan, pikiran yang terbang, dinosaurus yang berdansa diperutku aku membalas pertanyaan itu "rinduku sudah siap dipecahkan dari celengannya, kapan kamu akan datang?" aku mengetiknya dengan berharap balasan yang bersambut... Tapi...

Jawaban itu dan harapan itu tak pernah datang...

Dia tak pernah menjawab lagi pesanku, aku tetap dengan pikiran positif dia sedang fokus pada meetingnya. Mungkin nanti pulang kerja dia baru akan membalas pesanku. sampai jam pulang kerja pun tak ada notif lagi darinya. Aku berusaha membuka topik baru lagi "mas, sudah selesai meetingnya? aku sudah masuk daerah Jakarta" tetap tak ada balasan apapun. Sampai waktu ku tiba tak ada balasan apapun darinya "Mas, aku sudah sampai di Gambir ya" aku memberikannya pesan dan mengabarinya aku sudah di perjalanan menuju rumah tepat pukul sembilan malam aku sudah berada di Kota yang sama dengannya aku pun memberinya kabar dan lagi tak pernah berharap balasan seperti biasanya..

Sepertinya kita sudah berada di fase awal lagi, kembali asing tanpa kabar dan suara lagi. 

Dia pergi lagi untuk sekian kalinya, tapi aku tetap berpikir kalau dia sangat sibuk dan bergelut dengan kesibukkannya. Aku menunggunyaa. Esok hari aku buru-buru membuka ponselku, berharap ada notif dari nya, ataupun media sosialnya tapi tak ada kabar apapun. Pikiranku memintaku menunggu beberapa waktu, seperti pada mode awal, ku menunggu dan tetap menunggu di tempat yang sama untuk menunggunya kembali.

Singkatnya, aku bersiap kembali pulang karena masa liburan semester telah usai dan sampai waktu itupun aku tak tahu kabarnya maupun bagaimana dia. Tepat tiga bulan aku di Jakarta dan dia juga tak ada kabar, pertemuan yang ku pikirkan sirna benar-benar pergi begituu sajaaa...
aku kecewaaaa,aku marah tapi lagi-lagi aku tetap menunggunya..

Enam bulan sudah dia tak ada kabar, ada notif muncul dari sebuah postingan di akun media sosialnya. Dari situ aku tahu dia baik-baik saja, dia terlihat sangat nyaman dan menikmati harinya dengan baik-baik saja. Jadinya aku merasa sia-sia mengkhawatirkannya, bergulat dengan isi pikiranku tentang dia tanpa aku, ternyata itu semuaa seperti partikel debu, tak berarti apa-apa. 
kepergiannya tak menunjukkan penyesalan ataupun masalah yang menganggu pikirannya..

Ternyata selama ini hanya aku yang khawatir, hanya aku yang memikirkannya terlalu, dan hanya aku yang selalu tetap menunggunya....

Aku pun tersadar jika aku membuang waktuku dengan sia-sia menunggunyaa,,khawatir padanya..
Aku pun memutuskan untuk berhenti karena dia sudah benar-benar pergi.

Terima kasih untuk waktu yang indah, perjalanan yang tidak pernah membosankan bersamamu kala itu..
Selesai sudah cerita itu, terima kasih Argo Bromo yang sudah memberikanku kebahagiaan disepanjang perjalanan bersamamu..

Ku akhiri semua cerita itu hari ini tanpa akan terulang kembali...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Argo Bromo Anggrek di Bulan Juni

Setelah penantian panjangku, aku kembali mendengar notif yang sudah lama ku rindukan berhari-hari lamanya. Sebuah kalimat yang tak pernah ak...