Selasa, 08 Oktober 2013

Dialah ombakku






Dibawah langit yang biru, diatas pasir yang putih diantara karang-karang yang tinggi ia hadir membawa suasana baru, suara khas saat ia menyapa karang. Ombak yang datang bergantian membawa warna baru diatas permukaan air yang tenang, ia datang dengan membawa harapan disetiap gulungannya. Harapan untuk semua orang yang menunggunya. Pernah terpikir olehku apakah ombak akan tetap seperti ini tenang namun dapat memberikan pengalaman yang tak terlupakan saat berada bersamanya diatas air. Perlahan tanpa ku sadari angin berbisik padaku “nikmatilah ombak yang kau lihat sekarang, karena belum tentu kau selalu dapat melihat dan merasakannya seperti sekarang”. Perlahan aku teringat akan seseorang yang berada jauh dari hidupku, seseorang yang dulu pernah ada dihidupku, seseorang yang memberikanku pengalaman yang baru tentang hidup.
Saat itu usiaku genap 20 tahun, dimana aku merasakan yang namanya cinta yang sebenarnya. Aku bertemu dengannya dan menjadi bagian dari hidupnya. Dia adalah Bian. Bian yang selalu memberiku warna yang baru setiap harinya, ia memberikanku pengalaman tentang kehidupan yang selama ini tak pernah ku tahu dan Bian adalah orang selalu mengajakku bermain dipantai menikmati pemandangan laut dan langit yang menjadi satu saat aku menatapnya.
Pernah Bian berkata padaku “Hay, lihatlah kelaut. Apa yang kau lihat dilaut?” aku pun menjawab “Aku hanya melihat air yang biru dan aq mendapat ketenangan”. “Rani, coba penjamkan matamu dan rasakan suara deburan ombak yang datang” kata Bian. Aku pun mencoba merasakannya, dan benar aku merasakan suara ombak yang menyapa karang besar dan dia menyapu pasir lalu membawanya ketengah laut. Bian pun berkata “Aku ingin menjadi ombak didalam hidupmu.” “Kenapa kau harus menjadi ombak, bukankah ombak terkadang membawa musibah?. “Tidak semua ombak membawa kekacauan, ombak juga dapat membawa suasana baru dan memberikan kesenangan bagi penikmatnya” perkataan Bian ini membuatku berpikir bahwa ombak tak selamanya jahat.
"kenapa kau memilih menjadi ombak? kenapa tidak langit yang selalu memberiku keteduhan?"
"untuk apa aku menjadi langit jika aku hanya memberikan keteduhan? bukankah dimana ada ombak disitu langit akan memberikan pesonanya yang menawan?" jawab Bian dengan memejamkan mata
"benar, tetapi aku aku lebih menyukai melihat langit dan lautan."
"suatu hari nanti jika kau merindukanku datanglah kemari dan pejamkan matamu lalu rasakan suara ombak dan rasakan langit yang memberimu keteduhan karena saat itu aku merasakan hal yang sama." jawab Bian dengan memelukku erat
aku tak dapat membalas perkataannya hanya sebuah pelukan hangat yang membalas ucapannya.

Aku dan Bian pun sering menghabiskan waktu bersama disana, walau hanya melihat laut dan langit karena terkadang ombak tak datang. Terkadang pun saat kami datang, kami mendapat sambutan hangat dari matahari yang akan beranjak berganti tugas dengan bulan dan sapaan penuh semangat dari ombak. Entah kenapa saat aku dan Bian bersama aku selalu merasa ombak selalu menyapa kami dengan indahnya berbeda saat aku bersama keluargaku. Sempat terlintas apakah ombak ini akan menjadi Bian yang selalu memberikan keindahaan dan senyumannya yang khas padaku setiap aku melihatnya.

Benar adanya suatu hari Bian pergi untuk mengejar mimpinya, aku pun kehilangannya. Aku pun lebih sering menghabiskan waktu sendiri dan memandangi lautan yang biru. Saat itu langit dan lautan tampak indah aku pun mengingat ucapan Bian untuk merasakan dirinya yang datang bersama ombak dan langit yang teduh. Benar adanya aku benar-benar merasakan Bian ada disampingku dan memelukku dengan hangat sama seperti saat ia memelukku dulu. Tak kusadari air pun menetes disudut mataku membuatku semakin merindukannya.
Satu pesan Bian yang selaluku ingat sampai saat ini "Dimana ada laut pasti ada langit yang menemani keindahannya. Seakan langit dan laut adalah satu kesatuan dan ombak adalah warna baru ditengahnya." Bian entah apa yang ada dipikiranku saat ini, namun yang pasti kau tlah berhasil menjadi ombak dalam hidupku dan ombak yang selalu muncul dengan sejuta keindahan suara sapaannya ku beri ia nama Ombak Bian

Argo Bromo Anggrek di Bulan Juni

Setelah penantian panjangku, aku kembali mendengar notif yang sudah lama ku rindukan berhari-hari lamanya. Sebuah kalimat yang tak pernah ak...